Sabtu, 26 Maret 2016

KERAJINAN UNIK MANGUNAN


KERAJINAN UNIK DI MANGUNAN 


Kerajinan tangan yang ada di Dusun Lemahbang, Mangunan, Dlingo, Bantul ini didominasi oleh kerajinan rangka keris. Rangka keris merupakan kerajinan unik nan indah yang termasuk dalam salah satu senjata pusaka asli Jawa. Kerajinan ini merupakan hasil kebudayaan leluhur yang diturunkan secara turun temurun dari generasi ke generasi.
Rangka keris ini memiliki arti filosofis dalam setiap detail dan ukirannya. Di desa wisata Lemahbang, wisatawan dapat belajar mengenai proses pembuatan, pengenalan jenis kayu yang bagus, dan pemasangan hingga terwujud keris komplit dengan aksesorisnya. Bahan kerajinan rangka keris ini mudah diperoleh yaitu dari kayu bahan bakar, besi, dan kuningan, tidak seperti meubel yang bahan bakunya mahal.
Salah satu pengrajin rangka keris di dusun Lemahbang adalah Pak Ponikin. Setiap tahun Pak Ponikin mengirim 600 rangka keris per bulan ke luar negeri. Tiap rumah rata-rata mempunyai keterampilan membuat rangka keris, lebih kurang 25 pengrajin tersebar di Lemahbang. Para pengrajin dapat menerima pesanan grosir dan eceran. Harga ecerannya adalah Rp100.000,- sampai jutaan per rangka keris tergantung kualitas dan tingkat kesulitan pembuatannya. Karyawan Pak Ponikin adalah tetangganya sendiri sebanyak 3 orang. Pembuatan rangka dapat secara manual. Rangka keris yang dibuat termasuk dalam kualitas sedang dengan harga yang terjangkau. Rangka keris selain sebagai hiasan busana perinikahan bisa juga untuk hiasan interior. Pemasaran belum ada di media sosial seperti Facebook, Instagram, dan lain-lain, pak Ponikin hanya menggunakan BBM sebagai media sosial untuk pemasaran, sehingga masih sangat terbatas jangkauannya.
Kerajian lain adalah peralatan dapur dari anyaman bambu, namun belum dapat berkembang dengan maksimal. Hasil kerajinan terdiri dari tampah, kipas, tambir, kalo, tomblok dan lain-lain. Harga kerajinan tersebut harganya sangat terjangkau. Wisatawan dapat langsung membeli ke pengrajin, juga dapat belajar membuat sendiri untuk menganyam aneka motif kerajinan tangan. Harapan Pak Ponikin sebagai salah satu pengrajin rangka keris di Dusun Lemahbang adalah semakin berkembangnya usaha kerajinan rangka keris dan banyak wisatawan yang datang ke desa, baik dari lokal maupun luar daerah bahkan luar negeri sehingga dapat menambah penghasilan warga dan memajukan Desa Wisata Lemahbang. 


 

TEBING WATU MABUR Camping Ground


 TEBING WATU MABUR Camping Ground

Semangat dan gagasan dibukanya camp ground  di tebing watu mabur ini diawali dari kesadaran masyarakat akan potensi alam Lemahbang yang sangat bagus dan mampu bersaing dengan desa wisata lainnya. Kelebihan camp ground watu mabur adalah area camping mudah di jangkau dengan sebuah jalan alternatif yang dapat langsung masuk ke area camping baik sepeda motor maupun mobil. Selain lokasi camping yang masih alami dan asri, lokasi camping ini juga aman dan nyaman karena tempatnya yang tidak jauh dengan pemukiman warga dusun Lemahbang. Di lokasi ini, Anda dapat menikmati indahnya sunrise yang menyinari sawah-sawah terasering dan lautan kabut di bawah tebing dengan cahaya keemasannya. Selain sawah terasering yang hijau, di bawah tebing juga terdapat batang sungai ‘kali oya’. Bukit-bukit yang berjajar kokoh cantik dan menawan sangat ‘instagramable’ untuk Anda yang suka berfoto.  Keunggulan-keunggulan itulah yang membuat camp ground watu mabur mampu bersaing dengan wisata alam lainnya.Sudah banyak komunitas mahasiswa, anak sekolah yang melakukan camping di sini Faktor keamanan di lokasi camping sangat diperhatikan oeh pengeola desa wisata dengan bekerjasama dengan karang taruna dusun Lemahbang. Lokasi camping ground berada di selatan gua gajah sehingga tempat ini sangat cocok untuk kegiatan pramuka yang sering melakukan penjelajahan



LEMAHBANG Sentral Warongko Keris



Sogol berprofesi sebagai pembuat warongko keris dari dusun lemah abang Mangunan Dlingo. Profesinya itu dikembangkan setelah belajar sebagai seorang Mranggi (pembuat ronggko) kepada mbah Wiryo Dikromo. Sejak 1984 Sogol memulai usaha membuat warongko hingga kini. Sekarang ia dibantu oleh Mring Sri Sari seorang ponakan lelaki. Menurut Mring ketika ditemui di rumah Sogol Selasa (17/04), mereka berdua dalam sebulan dapat membuat minimal 25 buah warongko.


karongko yang dibuat umumnya bergaya Yogya dan Solo. Namun ada juga pesanan warongko bergaya Bali, Sumatra dan Malaysia. Sebenarnya kami hanyalah penjual jasa membuat warongko. Mereka yang memesan biasanya sudah menyiapkan sendiri bahan yang akan akan dijadikan warongko, desain atau gambar maupun ukurannya. Ongkos membuat itu sendiri menjadi mahal, bila yang disiapkan tidakutuh, sehingga harus ditambal agar sempurna dan menghasilkan tekstur yang indah.


Dalam kondisi normal bila bahannya utuh, ongkos membuatnya hanya berkisar antara Rp. 50- 75 ribu. Namun bila tambalannya banyak, bisa mencapai Rp. 100 250ribu. Bagian yang dibual Sogol dan ponakannya hanyalah yang terbuat dari kayu yakni ukir atau gagang keris, warongko atau mendak dan pendho atau sarungnya. Mereka membuat sudah atas dasar pesanan, dan kebanyakan dipesan oleh orang Imogiri yang juga dikenal sebagaiperajin warongko. Sedikit saja yanglangsung oleh pemiliknya.

Untuk mendak dan gagangdiasanya dibuat dari bahan kayu timo, nogosari, cendana, pelesium, trembalo, adem ati, jati dan kemuning. Sedangkan untuk gandar dan gandar iras biasanya dibuat dari bahan mlinjo atau mindi. Sedikit sekali pemesan yang sekaligus meminta disediakan bahan oleh Sogol, sehingga di rumahnya hanya terlihat bahan baku untuk membuat warongko dalam jumlah sedikit. Walau hanya membuat berdasar pesanan, tapi Mring mengatakan bahwa hampir setiap saat tetap ada kerjaan.

Hampir tidak ada promosi usaha, pesanan datang hanya karena relasi pribadi dengan perajin di Banyusumurup yang sudah berjalan cukup lama. Proses membuatnya juga cukup sederhana yakni setelah ada bentuk atau gambar,perajin mulai mencantik bahan kayu sampai terbentuk warongko dalam ujud kasarnya, kemudian diamplas lalu diplitur, diamplas lagi kemudian diplitur untuk kedua kalinya,selanjutnya disemprot klir lalu dikompon. Peraltan manual yang digunakan antara lain : pethel, gergaji uther, canthik, wali,patar halus dan kasar serta bor.

------------------------------------------
Usaha membuat Warongko keris : d/a. Lemah Abang Rt. 25, Mangunan, Dlingo, Bantul, Yogyakarta
CP. Sogol
hp. 081 804 031 538 dan Mring Sri Sari hp. 





 http://bantulbiz.com/id/bizpage_perajin/id-455.html

Thiwul Ayu "Mbok Sum"

Thiwul Ayu "Mbok Sum" Mangunan, Dlingo, Bantul, Yogyakarta

Berkunjung ke suatu tempat, tidak lengkap rasanya jika tidak mencicipi kuliner khas setempat. Berada di jajaran pegunungan selatan, daerah Mangunan memiliki sebuah kuliner "ndeso"  yang khas dan sayang jika dilewatkan.

Jika Anda bertandang menjelajahi daerah Mangunan, khusunya Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus Dlingo, tak ada salahnya jika mampir mencicipi makanan khas masyarakat di kawasan pegunungan kidul ini. Thiwul Ayu "Mbok Sum", sebuah kuliner khas yang siap menuntaskan rasa kangen maupun rasa penasaran Anda terhadap panganan pokok pada masa penjajahan ini.

Tiwul merupakan salah satu makanan pokok pengganti beras. Panganan ini berbahan dasar ketela pohon (singkong) yang memiliki kandungan karbohidrat dan juga kalori yang cukup tinggi. Panganan ini cukup terkenal di kalangan masyarakat yang menghuni kawasan pegunungan kidul, meliputi daerah Pacitan, Wonogiri, dan Gunung Kidul yang terkenal tandus dan gersang. Daerah pegunungan selatan memang cukup terkenal sebagai salah satu tempat penghasil singkong yang cukup banyak, karena jenis tanaman ini mampu tumbuh dan berkembang di tanah yang minim dengan air. Maka tak heran jika banyak penduduk yang beralih mengolah singkong untuk dijadikan makanan pokok, karena dari segi harga memang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan memakan nasi.
Proses pengolahan tiwul pun memiliki proses yang cukup panjang dan sedikit rumit. Singkong yang telah dikupas kemudian dijemur hingga kering untuk kemudian diolah menjadi tepung gaplek. Setelah menjadi tepung, proses selanjutnya adalah menguleni adonan dengan cara menaruh tepung gaplek di atas tampah (tempat berbentuk bulat terbuat dari anyaman bambu) kemudian diperciki air sambil diaduk-aduk hingga berbentuk butiran-butiran. Adonan ini kemudian dikukus di dalam dandang hingga matang dan tak lupa diberi campuran daun pandan untuk menambah aroma pada tiwul. Untuk penambah rasa, biasanya tiwul ini diberi tambahan gula jawa dan parutan kelapa.
Thiwul Ayu "Mbok Sum" ini pun sudah melakukan beberapa inovasi dalam hal rasa sehingga dapat diterima masyarakat di era sekarang ini. Ada beberapa pilihan rasa tiwul di tempat ini, antara lain adalah tiwul gula jawa, tiwul gula pasir, tiwul sambal, dan tiwul gurih. Pilihan saya jatuh kepada tiwul gula jawa. Tiwul ini memiliki tekstur yang kenyal, dengan perpaduan rasa manis dan gurih yang berasal dari campuran gula jawa dan juga parutan kelapa. Aroma tiwul pun cukup khas dan menggugah selera. Rasa tiwul ayu "Mbok Sum" memang sangat pas bagi lidah saya yang berselera ndeso ini. Oh iya sekedar tips, bagi Anda yang tak terbiasa memakan tiwul, jangan memakan tiwul dalam keadaan perut yang kosong karena menjadikan perut terasa begah. Sebaiknya Anda makan makanan biasa dulu sebelum memakan tiwul untuk menghindari gangguan perut begah.
Walaupun menjual menu tradisional, namun pengemasan dan juga sistem pemasaran Thiwul Ayu "Mbok Sum" ini sudah menerapkan cara yang modern lho ! Tiwul-tiwul dari tempat ini dimasukkan ke dalam kardus makanan dalam penjualannya. Anda pun dapat memesan tiwul ini melalui telepon maupun melalui email. Tak perlu khawatir untuk jauh-jauh datang ke daerah Mangunan, karena Thiwul Ayu "Mbok Sum" sudah menerapkan sistem delivery service ! Hanya saja untuk sistem pesan antar ini saya kurang tahu harus minimal berapa order dan juga ongkos kirimnya. Satu buah tiwul ayu ini dihargai Rp 3.500,00 saja, sangat murah bukan? Nah, bagi Anda penggemar kuliner otentik dan kebetulan sedang menjelajah daerah Mangunan, jangan lupa mampir ke warung Thiwul Ayu "Mbok Sum" ini.
keterangan :
warung Thiwul Ayu "Mbok Sum" ini biasanya sudah buka sejak pagi
CP untuk pemesanan :
HP 081 931 709 303
email : thiwulayu_mboksum@yahoo.com
 

Jumat, 25 Maret 2016

Profil Sosial Budaya

Profil Sosial Budaya

Administrator 30 April 2014 17:23:24 WIB

  1. a.      Jumlah Penduduk

Jumlah jiwa
orang
Jumlah laki-laki
orang
Jumlah perempuan
orang
Jumlah Kepala Keluarga
KK

  1. b.     Tingkat Pendidikan
Belum sekolah  308 orang
Usia 18-56 tahun tidak pernah sekolah  144 orang
Usia 18-56 Pernah  SD tetapi tidak tamat  27 orang
Pendidikan terakhir orang
Tamat SD/sederajat  132 orang
SLTP/sederajat 751  orang
SLTA/sederajat  554 orang
D-1 orang
D-2 orang
D-3 12  orang
S-1 30  orang
S-2 orang
S-3 orang

  1. c.      Mata Pencaharian

Petani
246
orang
Buruh tani
125
orang
Buruh/swasta
136
orang
Pegawai Negeri
35
orang
Pengrajin

orang
Pedagang
9
orang
Peternak
-
orang
Nelayan
-
orang
Montir
8
orang
Dokter
-
orang
POLRI/ABRI
1
orang
Pensiunan
36
orang
Perangkat Desa
15
orang
Pembuat Bata
3
orang

  1. d.       AGAMA
Islam
2215
orang
Kristen
5
orang
Katholik

orang
Hindu

orang
Budha
1
orang

http://mangunan-bantul.desa.id/index.php/first/artikel/59 

VISI DAN MISI DESA MANGUNAN

 
VISI DAN MIS DESA MANGUNAN
VISI
 
Desa Trimurti kedepan adalah : “PADAT BERISI” : Masyarakat Desa Trimurti yg Produktif dalam bekerja, Agamis berbudaya, Demokratis Aspiratif , terib dalam bermasyarakat, Bersih, Edukatif, Ramah, Inovatif serta Sehat dalam lingkungan yang Ijo Royo-royo.
 
MISI
 
Mencerdaskan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang didasari pada keimanan dan ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa.
nMewujutkan demokratisasi dalam segala aspek kehidupan, menghormati hak asasi manusia dan menegakkan supremasi hukum.
nMewujudkan peningkatan produksi, produktivitas dan nilai tambah hasil-hasil potensi desa yang bekelanjutan dan berwawasan lingkungan
nMenwujudkan penyelenggaraan tata organisasi pemerintahan yang baik dan bertanggungjawab.
nMewujudkan kebersamaan, keterbukaan, jujur, adil demokratis dan bertangungjawab sebagai nilai utama yang dijadikan pedoman dalam pelaksanaan pembangunan.
nMewujudkan tertatanya pengelolaan sumber daya alam yang baik, bersinergi dengan perkembangan teknologi.
nMewujudkan tercapainya kehidupan masyarakat yang sehat dan dinamis, kreatif dan inofatif dengan produktifitas tinggi.
 

SEKILAS DESA MANGUNAN

 SEKILAS DESA MANGUNAN

Desa mangunan terletak di kecamatan Imogiri kabupaten bantul dengan batas wilayah sebelah utara Desa Wukirsari, sebelah selatan Desa Sriharjo, sebelah timur Desa Muntuk dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Girirejo.
        Struktur Kepengurusan Aparat Desa Mangunan terdiri dari Kepala Desa (Lurah) yaitu Bapak Poniyat, Sekretaris Desa yaitu Ngudisiswanto, Kepala Urusan Pemerintahan yaitu Bapak Widodo, Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat yaitu Bapak Supandi, Kepala Urusan Umum yaitu Bapak Suroto, Kepala Urusan Keuangan yaitu Slamet Purnomo. Sementara, untuk jabatan Kepala Urusan Pembangunan dan Kepala Urusan Pemberdayaan Masyarakat belum ada yang menduduki. Sedangkan untuk jabatan Ketua Badan Permusyawaratan Desa diduduki oleh Sujar Hartono, S.Pd.
         Desa Mangunan berada di wilayah dataran tinggi dengan topografi wilayah yang berbukit-bukit seluas 548.4000 m2 dengan rincian penggunaanya sebagai berikut: pemukiman Desa Mangunan seluas 177.2000 m2, luas persawahan 73.0000 m2, luas perkebunan 41.2000 m2, luas area pemakaman  1.2500 m2, luas pekarangan  252.4500 m2, luas perkantoran 5000 m2 dan luas prasarana umum lainnya seluas 2.8000 m2.
         Desa yang terletak 26 km dari ibu kota provinsi D.I. Yogyakarta ini dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor selama 1,5 jam. Mayoritas keluarga di desa ini memiliki tanah pertanian. Dengan Komoditi tanaman yang ditanam di Desa Mangunan mayoritas antara lain jagung, ubi kayu, padi sawah, padi ladang, kacang tanah dan kacang kedelai. Selain dijual ke pasar, hasil tanaman pangan tersebut juga dijual melalui Koperasi Unit Desa, pengecer dan tengkulak. Adapun tanaman apotik hidup yang ditanam di desa ini, yaitu jahe, kunyit, dan lengkuas. Selain itu, masyarakat desa ini juga memiliki komoditas perkebunan, yaitu kelapa dan karet yang dijual melalui tengkulak dan pengecer.
      Hasil hutan mayoritas di desa mangunan antara lain kayu, jati, mahoni, madu lebah dan arang. Hasil hutan tersebut dijual melalui tengkulak atau pengecer.
      Masyarakat Desa Mangunan juga memiliki ternak ayam kampung, sapi, dan kambing. Selain itu, ada pula masyarakat desa yang memiliki usaha madu lebah dan kerajinan tangan dari kayu.